Penyetelan dan Pengepasan pada Sepeda Balap

Pengepasan (bike fitting), adalah penyetelan sepeda sesuai dengan postur tubuh Anda, sangat penting untuk dilakukan, pertama untuk menghindari cedera terutama pada lutut dan punggung, kedua untuk kenyamanan bersepeda sehingga Anda nyaman bersepeda dalam jangka waktu yang lama, dan ketiga untuk mendapatkan efisiensi terbaik dari gerakan kayuhan Anda.

Tulisan ini membahas pengepasan pada sepeda balap (road bike). Ada beberapa hal yang akan dibahas, antara lain memilih ukuran rangka sepeda (frame) yang tepat, menyetel tinggi sadel, maju mundurnya sadel, dan ketinggian stang sepeda (handle bar).

Prinsip Kenyamanan

Apapun saran tentang tinggi, panjang, atau sudut yang diberikan oleh siapapun (termasuk tulisan ini), prinsip pengepasan sepeda tetap satu, yaitu Anda harus merasa nyaman dengan posisi badan Anda. Tidak peduli apakah ukuran sudah pas, sudut sudah tepat, dan sebagainya, tapi kalau Anda merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut, berarti ada yang masih belum pas.

Ingatlah prinsip ini ketika melakukan penyetelan di bawah ini.

Baca lebih lanjut

Gowes Keliling (Setengah) Bali, 400 km dalam 3 Hari

Berawal dari obrolan dengan dua teman yang baru saja melakukan touring Jakarta – Bandung, pada awal bulan Mei kami berempat, saya (Benny), Alham, Made, dan Imam merencanakan sebuah acara gowes keliling Bali. Agar bisa dapat tiket murah, tanggalnya kami tentukan dulu di awal, yaitu 31 Mei sampai 2 Juni. Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Entah dari mana, Alham sudah mencanangkan targetnya 400 km. Wuih ambisius juga. Tapi katanya yang penting gertakannya dulu, he he. Oke deh, yang lain pun ho oh saja. Toh kalau nggak kuat bisa dinaikin angkot, he he.

“Kebetulan” Made tinggal di Denpasar, oleh karena itu dia tahu seluk beluk Bali. Dia pun menyarankan kita mengambil rute Bali timur, yaitu dari Denpasar menuju Singaraja lewat Karang Asem, sejauh kurang lebih 160 km. Lalu pulangnya Singaraja ke Denpasar via Kintamani dan Ubud sejauh 120an km. Rute barat (arah Gilimanuk) sengaja tidak dipilih karena menurut Made rute itu ramai dengan truk sehingga gowes pun akan tidak sehat dan nyaman karena asap kendaraan. Sedangkan Singaraja – Denpasar lewat Bedugul juga dihindari karena menurut dia tanjakannya serem. Pertimbangan yang bagus.

Kalau dilihat di peta, rutenya seperti ini: Baca lebih lanjut

Info Tujuan: Lebak Tumpang, Klotok, Kediri

Lebak Tumpang (lokasi GPS: -7.818614, 111.967242) berada di daerah gunung Klotok, Kediri. Gunung Klotok sendiri jauhnya 5km dari perempatan jalan Dhoho – Brawijaya. Kalau anda dari jalan Veteran (SMA 1/SMA 2), terus ke barat ke arah gunung Klothok, dan setelah mentok pertigaan belok kiri (ke selatan). Dari situ jauhnya kurang lebih 1.5 km ke Lebak Tumpang, dengan elevasi tidak sampai 100m. Ada beberapa bagian yang terjal, dengan kemiringan sampai 25%, tapi panjangnya cuma 10-20 meter saja.  Kalau ambil jalur sebaliknya, yaitu dari selatan atau dari terminal, maka tanjakan terakhir agak lumayan, dengan kemiringan sekitar 25% dan panjang  sekitar 40m.

Di sini merupakan markas LTCC (Lebak Tumpang Cycling Community), sehingga hampir tiap hari selalu ramai dengan goweser. Di puncaknya ada warung yang menyajikan camilan favorit yaitu tahu goreng dengan sambal kecap. Dari warung itu, bisa melihat pemandangan kota Kediri seperti ini.

Kota Kediri ketika matahari terbit dilihat dari Lebak Tumpang

Kota Kediri ketika matahari terbit dilihat dari Lebak Tumpang

Kalau anda di Kediri dan pengen rute yang ringan-ringan, tidak ada salahnya dicoba ke sini. Salam.

 

Bersepeda 113 km tanpa Bonk atau Kehabisan Tenaga

Seperti saya tulis di Bonk atau Kehabisan Tenaga: Penjelasan dan Pencegahan, seminggu yang lalu saya bersepeda touring Surabaya – Kediri sejauh 113 km, dan singkat kata saya bonk, atau kehabisan tenaga, sehingga jarak sejauh itu saya tempuh dalam 7 jam lebih dengan sangat susah payah. Pengalaman tersebut membuat saya mencari tahu tentang kondisi kehabisan tenaga atau bonk ini dan menuliskannya dalam artikel itu. Baca lebih lanjut

Laporan Rute Gowes: Kediri – Pare – Ngoro – Mojoagung – Mojokerto Kota – Krian – Waru – Surabaya (114 km)

Hari Sabtu tanggal 26 Januari 2003 lalu saya bersepeda dari Kediri ke Surabaya. Laporan utamanya saya tulis dalam artikel Bersepeda 113 km tanpa Bonk atau Kehabisan Tenaga.

Sebagai hasil samping, sekarang akan saya tuliskan laporan situasi jalan dari Kediri ke Surabaya. Harap diingat bahwa saya berangkat hari Sabtu, dari Kediri subuh jam 4 pagi. Pada hari atau waktu yang lain kemungkinan akan lain pula situasinya.

Kediri - Surabaya

Kediri (Gurah) – Surabaya.  Klik untuk melihat sesi gowes di Endomondo dan mendownload GPX dari situ.

Baca lebih lanjut

“Bonk” atau Kehabisan Tenaga: Penjelasan dan Cara Mencegah

Istilah bonk, atau “hitting the wall“, sering dipakai di kalangan olah raga, untuk menggambarkan kondisi di mana badan sudah sedemikian letihnya sehingga sudah tidak bisa diajak meneruskan olah-raga lagi. Bahasa Indonesianya saya tidak tahu, mungkin yang cocok adalah “habis“.

Pernahkah anda bersepeda jarak jauh, anda sudah melalui jarak yang lumayan, dan anda merasa baik-baik saja. Hanya tinggal beberapa kilometer saja menjelang tujuan, dan secara tiba-tiba kondisi anda jatuh. Anda merasa tidak kuat lagi meneruskan perjalanan. Kaki terasa lemas seperti agar-agar. Pengennya berteduh, selonjor, atau membaringkan diri. Kalaupun diteruskan, hanya bisa mengayuh 1-2 km sebelum harus berhenti lagi. Mengayuh kaki juga sudah tidak bisa konstan, harus sekali-sekali jeda. Anda merasa sudah “habis”.

Baca lebih lanjut